Laman

Selasa, 10 April 2012

Tentang Akidah Aswaja (Ahlus sunnah wal jama'ah)

I’tiqod Nabi Saw dan para sahabat telah termaktub dalam Qur’an dan hadits,terdapat dalil secara terpisah di beberapa ayat dalam Qur’an ,tetapi belum tersusun secara sitematis. Kemudian dikodifikasi dan dirumuskan secara sistematis dalam disiplin ilmu aqidah oleh seorang ulama besar di bidang Ilmu ushuluddin,yaitu Imam Abul Hasan al Asy’ari.

Adapun ulama selanjutnya penggagas i’tiqod Aswaja adalah Imam Abu Manshur Al Maturidi. Faham dan i’tiqod beliau sama atau nyaris sama dengan faham Imam Abul Hasan Al Asy’ari . Kedua tokoh Ulama tadi adalah sebagai penggagas , perumus , penyebar sekaligus mempertahankan apa yang sudah tertera dalam Qur’an dan Hadits,yang telah di i’tiqodkan oleh Nabi Muhammad Saw, serta para sahabat.

Diterangkan dalam kitab Ithofu Sadatil Muttaqiin yang dita’lif oleh Imam Muhammad Al Husni Az Zabidi, yaitu syarah kitab Ihya ’Ulumuddin karya Imam Al Ghazali , pada halaman 6 jilid II ditegaskan: Jika disebut golongan Ahlussunnah wal Jama’ah , maka yang dimaksudkan disitu adalah kaum Muslimin yang menganut faham Imam Abul Hasan Al Asy’ari atau faham Abu Manshur Al Maturidi.

Adapun tokoh tokoh ulama tepenting yang memiliki jasa dalam penyiaran faham Asy’ariyah ini antara lain adalah:
1. Imam Abu Hasan al Asy’ari sebagai peletak pertama faham ini yang bermazhab Syafi’i.
2. Imam Muhammad Bin Thoyyib Bin Muhammad Abu Bakar Al-Baqillani, beliau mendalami ajaran Asy’ariyyah ini melalui dua gurunya, yaitu Imam Ibnu Mujahid dan Imam Abu Hasan Al Bahil.
3. Imam Abdul Malik al Juwaini, yang dikenal dengan Imam Al-Haramain. Beliau mendapat gelar Imam Haramain sebab pernah tinggal di Makkatul mukarromah dan Madinatul munawwaroh guna menyampaikan pelajaran dan Fatwa.
4. Imam Al Ghozali,beliau adalah penganut Asy’ariyyah yang paling penting dan paling besar pengaruhnya bagi Umat Islam yang berfaham Aswaja

Ajaran-ajaran Imam al-Asy’ari tersebut dapat ditemukan dari beberapa kitab yang beliau tulis, terutama kitab al Luma’ fir Raddi ala Ahliz Ziyagh wal Bida’,al-Ibanah an Ushulid diniyyah dan Maqalatul Islamiyyin serta ta’lif ta’lif yang disusun oleh para Ulama pengikutnya.

Namun, sejak lahirnya aliran Wahabi yang lalu juga melahirkan Ulama idola mereka Yaitu Nashiruddin Al Albani dan Muhammad ibn Abdul Wahab,kemudian mencatut nama Ahlussunnah Waljama’ah guna dipaksakan dipakai sekte Wahabi tersebut, yang justru sebelumnya mereka lebih senang menyebut kelompok mereka dengan sebutan Muwahidun ( kelompok yang mengesakan Allah ).

Dan dalam tinjauan sejarah,mereka sebelumnya tidak dikenal sebagai golongan Aswaja Disebabkan mereka memaksakan diri dalam menggunakan sebutan Aswaja, maka tidak heran,jika di medan dakwahnya akhirnya mereka selalu bertabrakan dengan ajaran Ahlusunnah Waljama’ah yang murni . Misalkan:

-Golongan Aswaja membolehkan Tawassul kepada Nabi Saw setelah wafatnya , namun justru wahabi memvonis syirik kepada orang yang bertawassul .
-Golongan Aswaja mengakui keberadaan ilmu Tasawwuf , namun Wahabi mengkafirkan orang yang mengamalkan Tasawwuf .
-Masih banyak lagi , akhirnya golongan Wahabiyyin terpaksa harus merombak karangan-karangan ulama mu’ tabaroh supaya selaras dangan kemauan Wahabi . Bahkan tanpa beban moral golongan ini memvonis sesat kepada tokoh utamal Aswaja ini yaitu Imam Abu Hasan Al Asy’ari dan Abu Manshur Al Maturidi.

Demikian realitas sejarah keakidahan Aswaja.

Wallahu A'lam.

Abi Fajry Faisol TN.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar